Soe Hok Gie

Sejak kecil, Gie adalah orang yang enggan ditindas. Ia ingin merdeka dengan segala pikirannya. Itu sebabnya ia kerap memberontak. Tapi, ia pandai. Nilai-nilainya termasuk bagus kalau pun ada yang jelek karena gurunya tak suka dikritiknya.
Dalam pertumbuhannya dia bersahabat dengan Han, pemuda yang tinggal bersama tantenya yang galak. Pertemanan itu baru terpisahkan ketika Han mesti mengikuti sang tante pindah. Kelak mereka dipertemukan lagi saat keduanya telah memilih jalur politisnya masing-masing. Han masuk Partai Komunis Indonesia dan Gie berjuang dengan jalurnya sendiri.
Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie (Gie kemudian dikisahkan menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di sana, ia bertemu dengan teman-teman yang seide. Herman Lantang, Denny, dan Ira adalah teman-teman seperjuangannya. Mereka punya minat yang sama, termasuk naik gunung. Gie dan Herman adalah pendiri Mapala UI. Di kampus, ia tetap mengemukakan ide-idenya melawan Soekarno yang dinilainya hidup bermewah-mewah di atas penderitaan rakyat. Namun, ia tetap tidak ingin mengelompokkan diri pada satu organisasi mahasiswa tertentu, apalagi yang berbasis agama.
Dalam perjuangannya, Gie digambarkan mengikuti sebuah organisasi yang dipimpin Soemitro Djojohadikusumo, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga menentang Soekarno. Dalam jaringan ini, Gie aktif menyebarkan selebaran yang dibuat Soemitro yang saat itu bermukim di luar negeri dan bahkan membuat pamflet-pamflet.
Kiprah Gie bukan cuma di kampus. Tulisan-tulisannya tentang kondisi sosial masa itu yang dimuat diberbagai media pun sangat tajam. Kadang, pemimpin redaksi koran yang menerima tulisannya mesti berpikir ulang untuk memuatnya.
—————————————————————————-
Teks Puisi Gie
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan batang leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata kudengar dalam jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam CINTA


